Thursday, 15 January 2026

Jembatan Bahtera Sriwijaya: Masa Depan Ekonomi Balinya Sumatera

 

Bangka Belitung – Di tengah riuh pembangunan nasional yang menyasar konektivitas antarwilayah, satu proyek monumental tengah dikerjakan di ujung timur Sumatera Selatan Jembatan Bahtera Sriwijaya. Megaproyek ini bukan hanya sekadar penghubung dua daratan, melainkan juga jembatan sejarah, budaya, dan masa depan ekonomi antara Pulau Sumatera dan Pulau Bangka Belitung.

Menghubungkan Desa Tanjung Tapa, Kecamatan Tulung Selapan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), dengan Desa Sebagin di Bangka Belitung, jembatan sepanjang 13,5 kilometer ini diproyeksikan menjadi salah satu yang terpanjang di Asia Tenggara. Anggaran senilai Rp15 triliun dari APBN digelontorkan sejak 2024 untuk mewujudkan struktur raksasa yang akan menjangkau Selat Bangka.

Secara geografis, jembatan ini memang bertugas menghubungkan dua wilayah yang terpisah laut. Namun secara kultural, proyek ini menjadi simbol penyatuan dua peradaban yang memiliki sejarah panjang dalam dunia kemaritiman Nusantara.

Pulau Bangka Belitung, menurut sejarawan lokal Akhmad Elvian, merupakan peradaban bahari yang kuat, diperkuat oleh eksistensi Orang Laut seperti Orang Sekak dan Orang Sawang. Mereka merupakan masyarakat asli yang hidup berpindah-pindah menggunakan perahu lepa gajang, mengarungi perairan Selat Gaspar dan Selat Karimata.

“Dalam istilah lokal, masyarakat menyebutnya sebagai zaman bari, yang berarti zaman bahari. Sebab pada masa lalu, orang Bangka memiliki kemampuan pelayaran dan kelautan yang luar biasa,” ungkap Elvian.

Tak hanya kuat dalam sisi budaya, Bangka Belitung juga menyimpan kekayaan alam melimpah. Timah, ikan laut, dan lada menjadi komoditas utama yang justru melampaui penghasilan pegawai negeri maupun birokrat di sana. Sumber daya inilah yang akan semakin mudah diakses lewat jembatan ini, membuka jalur distribusi darat langsung ke Sumatera.

“Selama ini distribusi hasil laut dan tambang dari Bangka ke Sumatera bergantung pada pelabuhan dan kapal. Dengan jembatan ini, biaya logistik dan waktu tempuh akan jauh lebih efisien,” kata seorang pelaku usaha perikanan di Pangkalpinang.

Pembangunan jembatan ini pun disambut hangat masyarakat, terutama pelaku industri pariwisata. Dengan akses darat yang lebih mudah, potensi wisata bahari di Bangka Belitung seperti Pantai Parai Tenggiri, Tanjung Tinggi, dan keindahan bawah laut di Pulau Lengkuas diharapkan menarik lebih banyak wisatawan darat dari Sumatera bahkan luar pulau.

Nama Bahtera Sriwijaya sendiri tidak dipilih secara sembarangan. Ia menjadi simbol kelanjutan kejayaan masa lalu ke masa depan. Dahulu, di masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya, wilayah ini merupakan titik penting dalam jaringan perdagangan maritim global yang menghubungkan Nusantara, Tiongkok, dan India. Catatan perjalanan ekspedisi Tiongkok menyebutkan banyak saudagar mereka akhirnya menetap di Bangka — menjadi cikal bakal komunitas Tionghoa lokal yang kini dikenal dengan wajah khas “amoy” di kawasan itu.

Kini, melalui jembatan ini, semangat keterhubungan itu dihidupkan kembali. Jembatan Bahtera Sriwijaya diharapkan tak sekadar menjadi infrastruktur transportasi, melainkan jembatan identitas — penghubung sejarah, budaya, dan harapan masa depan ekonomi Sumatera Selatan dan Bangka Belitung.

Dengan kokohnya tiang pancang yang menjejak di dasar laut dan bentang jembatan yang memecah ombak, Indonesia seperti mengukir pesan: kemajuan adalah ketika masa lalu dan masa depan bersatu di satu lintasan.

Di tengah geliat pariwisata nasional yang terus bertumbuh, Pulau Bangka Belitung (Babel) tampil sebagai destinasi yang semakin diperhitungkan. Terletak di timur Sumatera dan dikelilingi perairan jernih yang eksotis, Babel digadang-gadang sebagai “Bali dari Pulau Sumatera” berkat kombinasi kekayaan alam, budaya bahari, hingga sejarah perdagangan maritim yang mengakar kuat.

Pulau-pulau kecil yang mengelilingi Bangka dan Belitung menyimpan potensi wisata kelas dunia. Pantai Tanjung Tinggi dan Pantai Tanjung Kelayang di Belitung, misalnya, sudah mencuri perhatian wisatawan internasional lewat pasir putih dan batu granit raksasa ikonik yang membentuk lanskap unik.

Selain itu, keindahan bawah laut di sekitar Pulau Lengkuas dan Pulau Leebong tak kalah dari spot diving di Raja Ampat atau Nusa Penida. Air laut yang jernih, terumbu karang yang terjaga, serta keanekaragaman hayati menjadikan Babel surga bagi pencinta snorkeling dan selam.

“Kalau Bali dikenal dengan budaya dan pantainya, Bangka Belitung punya potensi serupa, bahkan masih alami. Ini modal besar untuk dikembangkan menjadi destinasi unggulan Pulau Sumatera, Bangka Belitung Potensi menjadi Balinya pulau Sumatera,” ujar Yuni Triandini, praktisi pariwisata dari Palembang.(SM)

Berita Terbaru

Angin Puting beliung Mengamuk di Lubuklinggau
26 Nov

Angin Puting beliung Mengamuk di Lubuklinggau

  Atap Terbang, Bedeng Rusak LUBUKLINGGAU — Hujan deras yang disertai angin puting beliung memorak-porandakan kawasan pemukiman di Jalan Permai

Maling beraksi dirumah polisi, satu pelaku kabur
26 Nov

Maling beraksi dirumah polisi, satu pelaku kabur

Maling beraksi dirumah polisi, satu pelaku kabu LUBUKLINGGAU — Upaya pencurian di rumah seorang anggota Polres Lubuklinggau berubah menjadi drama

Dibalik bayang bayang keadilan : jejak korupsi dan integritas aparat penegak hukum dipertanyakan
12 Nov

Dibalik bayang bayang keadilan : jejak korupsi dan integritas aparat penegak hukum dipertanyakan

SUMATERA –Deretan kasus korupsi di Sumatera kembali menyeret perhatian publik. Dari ujung utara hingga selatan, aparat penegak hukum sibuk membongkar

Hutan Warisan Dunia di Ujung Tanduk — Dugaan Oknum Polhut di Balik Penjarahan TNKS Rawas
10 Okt

Hutan Warisan Dunia di Ujung Tanduk — Dugaan Oknum Polhut di Balik Penjarahan TNKS Rawas

    MURATARA- Bayangan hijau Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) kini kian memudar. Hutan tropis yang dahulu lebat dan lembap

80 Tahun Merdeka, Negara Masih Menetek Darah Rakyat
17 Agu

80 Tahun Merdeka, Negara Masih Menetek Darah Rakyat

Benarkah Indonesia 2030 Bisa Bubar SUMATERA– Delapan dekade setelah Proklamasi 1945, rakyat Indonesia kembali menatap wajah ironi. Negeri yang disebut

Jejak BBM “Langka di Pompa, Melimpah di Jerigen”: Dari Musi Rawas, Lubuklinggau hingga Muratara
17 Agu

Jejak BBM “Langka di Pompa, Melimpah di Jerigen”: Dari Musi Rawas, Lubuklinggau hingga Muratara

MUSI RAWAS – Alih-alih menjadi tempat pelayanan publik untuk kebutuhan energi masyarakat, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) 24.316.154 yang

berita terkini

Angin Puting beliung Mengamuk di Lubuklinggau
26 Nov

Angin Puting beliung Mengamuk di Lubuklinggau

  Atap Terbang, Bedeng Rusak LUBUKLINGGAU — Hujan deras yang disertai angin puting beliung memorak-porandakan kawasan pemukiman di Jalan Permai

Maling beraksi dirumah polisi, satu pelaku kabur
26 Nov

Maling beraksi dirumah polisi, satu pelaku kabur

Maling beraksi dirumah polisi, satu pelaku kabu LUBUKLINGGAU — Upaya pencurian di rumah seorang anggota Polres Lubuklinggau berubah menjadi drama

Dibalik bayang bayang keadilan : jejak korupsi dan integritas aparat penegak hukum dipertanyakan
12 Nov

Dibalik bayang bayang keadilan : jejak korupsi dan integritas aparat penegak hukum dipertanyakan

SUMATERA –Deretan kasus korupsi di Sumatera kembali menyeret perhatian publik. Dari ujung utara hingga selatan, aparat penegak hukum sibuk membongkar

Hutan Warisan Dunia di Ujung Tanduk — Dugaan Oknum Polhut di Balik Penjarahan TNKS Rawas
10 Okt

Hutan Warisan Dunia di Ujung Tanduk — Dugaan Oknum Polhut di Balik Penjarahan TNKS Rawas

    MURATARA- Bayangan hijau Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) kini kian memudar. Hutan tropis yang dahulu lebat dan lembap

80 Tahun Merdeka, Negara Masih Menetek Darah Rakyat
17 Agu

80 Tahun Merdeka, Negara Masih Menetek Darah Rakyat

Benarkah Indonesia 2030 Bisa Bubar SUMATERA– Delapan dekade setelah Proklamasi 1945, rakyat Indonesia kembali menatap wajah ironi. Negeri yang disebut

Jejak BBM “Langka di Pompa, Melimpah di Jerigen”: Dari Musi Rawas, Lubuklinggau hingga Muratara
17 Agu

Jejak BBM “Langka di Pompa, Melimpah di Jerigen”: Dari Musi Rawas, Lubuklinggau hingga Muratara

MUSI RAWAS – Alih-alih menjadi tempat pelayanan publik untuk kebutuhan energi masyarakat, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) 24.316.154 yang