Sumatera — Derasnya hujan yang mengguyur wilayah Aceh, Medan (Sumatera Utara), dan Padang (Sumatera Barat) dalam beberapa pekan terakhir membuka luka lama yang tertimbun di lereng pegunungan. Tanah yang jenuh air, menyusul kerusakan hutan akibat aktivitas pembalakan liar (illegal logging), runtuh dalam gelombang tanah longsor dan banjir bandang yang menelan ribuan korban jiwa dan mengubah lanskap sosial-ekonomi puluhan daerah.
Hampir dua bulan setelah bencana besar melanda tiga provinsi itu, data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa jumlah korban meninggal dunia telah mencapai lebih dari 1.150 orang, tersebar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Sebagian besar korban berada di Aceh dengan sekitar 527 jiwa, diikuti Sumut 365 jiwa dan Sumbar 262 jiwa. Ribuan lainnya mengalami luka, hilang, atau terpaksa mengungsi dari kampung halaman mereka.
Di Aceh Utara, korban tewas sebanyak 166 orang, sementara menyeruak di Aceh Tamiang (85) dan Aceh Timur (53). Di provinsi tetangga, Tapanuli Tengah di Sumut menjadi titik kritis dengan 131 korban jiwa, diikuti Tapanuli Selatan (86) dan Sibolga (54). Padang dan wilayah Sumatera Barat pun mencatat korban, termasuk 184 jiwa di Agam, serta puluhan lainnya di Padang Pariaman dan Kota Padang
Warga di dataran rendah, di bawah lereng yang gundul, menceritakan kepanikan tak berkesudahan saat tanah mulai bergetar. Akar yang hilang setelah puluhan tahun hutan ditebang membuat lereng-lereng itu kehilangan “pegangan”, sehingga longsor terjadi seolah tak terkendali saat air hujan mengalir deras ke dalam tanah yang telah rapuh.
“Saat hujan turun, kami tahu tanah tak lagi stabil. Tapi kami tak menyangka semua akan runtuh begitu cepat,” ujar seorang warga di perbatasan Lereng Aceh Utara, sambil menatap sisa rumahnya yang terkubur tanah.
Data dari BNPB juga menunjukkan puluhan ribu warga masih mengungsi di berbagai kabupaten. Rumah-rumah rusak berat, jembatan putus, dan ribuan fasilitas publik seperti sekolah serta fasilitas kesehatan ikut hancur, memaksa bantuan darurat terus mengalir ke daerah terdampak.
Korban yang kehilangan tempat tinggal menyampaikan kegelisahan tentang masa depan mereka. “Tanah sini seperti sabun saat hujan lebat. Dunia kami berubah dalam hitungan menit,” ucap seorang kepala keluarga di Medan yang rumahnya luluh lantak diterjang longsor.
Tim BPBD, TNI, Polri, Basarnas, relawan, dan pemerintah daerah terus bekerja siang malam, membuka akses yang terputus, mendirikan pos pengungsian, dan menyalurkan bantuan logistik. Namun medan yang ekstrem dan kondisi cuaca masih menjadi tantangan utama dalam operasi penyelamatan serta pemulihan.
Pakar lingkungan dan pejabat setempat mendesak penanganan lebih serius terhadap praktik ilegal logging yang telah berlangsung bertahun-tahun. Kerusakan hutan, menurut mereka, bukan sekadar catatan statistik — tetapi penyebab struktural yang membuat bencana hidrometeorologi menjadi jauh lebih mematikan saat hujan ekstrem menghantam
Di tengah pencarian dan upaya pemulihan, keluarga korban masih menunggu kabar, dengan harapan bahwa operasi pencarian akan menemukan mereka yang hilang dan membantu membangun kembali komunitas yang porak-poranda. Namun catatan korban yang terus bertambah menjadi pengingat pahit tentang risiko bencana yang tak lagi bisa dipisahkan dari kerusakan lingkungan yang terus berlangsung.(SM)
